Cat calling, sexual harassment injustice, bukannya miris tapi malah bangga?
![]() |
| By Pinterest |
Disclaimer, gue menulis ini berdasarkan opini gue semata dan berdasarkan apa yang gue liat di sekitar dan mencoba research sedikit-sedikit baik di artikel, media online, dll.
Semakin hari semakin banyak orang yang menyuarakan, dan membuat tuntutan agar RUU PKS (Penghapusan Kekerasan Seksual) segera disahkan. Gue pun termasuk orang yang pro terhadap RUU ini, karena kita sebagai manusia emang harus turut andil dalam melindungi wanita/laki-laki dalam hal kekerasan seksual, pemerintah wajib melindungi masyarakatnya, tapi ga tau kenapa pemerintah seakan akan ga gercep alias gerak cepat dalam menangani maraknya kasus pelecehan seksual yang terjadi di negara kita ini.
Menurut data Komnas Perempuan ada sekitar, 406.178 kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi pada tahun 2019
Menurut data Forum Pengada Layanan (FPL) yang dihimpun dari 25 organisasi, terjadi kekerasan seksual sebanyak 106 kasus dari kurun waktu Maret hingga Mei 2020, dan menurut data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) dari Januari sampai 19 Juni 2020 menunjukan, terjadi 329 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dewasa.
Dengan banyaknya kasus yang sudah terjadi dari tahun ke tahun, asli gue masih ga habis pikir sama pemerintah Indonesia
Well, data yang terhimpun itu adalah data yang tercatat dan terekam, bagaimaa dengan yang terjadi di lapangan dan ada individu yang ga berani untuk sharing dan melakukan pengaduan?
Yang akhir- akhir ini sering terjadi adalah maraknya cat calling (wanita jadi objek untuk kesenangan laki- laki, di siulin, di kerlipin mata, yang anjir pengin gue tabok kalau ngeliat ada cowok begitu) even cowok tersebut ga melakukan itu ke gue. DM Instagram (sering banget yang jadi target adalah cewek cantik, seksi, dan selebgram) Komentar negatif dan ga pantas untuk dilihat sampai kepada perilaku kejahatan seksual yang akhir- akhir ini sering terjadi di trotoar, minimarket, dan di transportasi umum, terutama di KRL Jabodetabek.
Gue sebagai kaum wanita merasa miris dengan adanya isu- isu seperti yang sudah gue jelaskan
Banyak banget ni wanita yang udah pada speak up mengenai perilaku dan sikap kejahatan seksual ini, ada yang sebagai korban dan memang pure karena merasa harus turut andil dalam masalah ini, ga cuma wanita, tapi laki- laki yang paham menghargai wanita juga banyak yang turut andil dalam menyikapi kasus tsb.
Nah tapi, entah mengapa gue sendiri terkadang risau dengan para wanita- wanita yang speak up karena menjadi korban, mereka bisa share pengalaman mereka, di akun media sosial, baik Instagram, Twitter, Facebook, ya apapun itu media sosialnya, biasanya cerita dan pengalaman yang mereka share itu datang dari pengalaman selebgram yang sering dapat komentar negatif, sampai dengan DM yang ga pantas, well, dibalik itu semua, gue merasa ko jadi malah makin banyak yang sharing pengalaman mendapat pesan sampah kaya gitu, dan itu jadi membuat sharing suggestion juga ke orang-orang yang pernah mendapat pesan sampah atau pengalaman yang sama. Menurut gue, ada dampak baik dan buruknya juga, dari baiknya dulu, mungkin itu untuk jadi pembelajaran buat orang-orang yang otaknya kotor untuk stop woy stop anjing! ngelakuin hal- hal hina dan kotor, ngirim pesan sampah, dari mulai kirim foto penis, ngajak tidur bareng, dan sebagainya, selain niat membuat pelaku jera, juga sekalian memberikan pengetahuan bagaimana wanita bisa bersikap jika di sekitarnya terjadi kasus pelecehan seksual baik itu sekedar cat calling maupun spam chat
Tapi disini gue mikir berkali kali lipat, apa yg salah dengan wanita yang di cat calling, seiring dengan kejadian banyaknya sexual harrasment, coba deh balik dan bertanya, bukan gue membela dan mentoleri laki- laki brengsek ya, tapi menurut gue bisa jadi ada yang salah dari si wanitanya , misal yang dicat calling karena pakaiannya tipis, dan terbuka, yang diajak tidur bareng, yang paling sering dapat spam chat dan foto ga wajar di media sosialnya adalah selebgram yang memang terbiasa menggunakan baju terbuka, bikini, dan ya et all.
Mungkin kalian berasumsi “nis ga bisalah salihin korban karena baju yang di pakai, tapi salahin si cowoknya, emang anjing aja di mikirnya sange, dan kotor” OK! Gue setuju. Tapi gue ga nyalahin korbannya, tapi koreksi, gimana seharusnya si korban menyikapi itu semua. Karena ada juga yang malah udah jadi korban, berani speak up, tapi malah merasa bangga, dan merasa ya ini “penampilan gue, gue akan tetapi dengan penampilan gue” which is dengan dia yang nyaman pakai bikini, dan short dress. Wanita ga akan bisa mengontrol apa yang ada di kepala laki- laki tentang yang laki itu pikirkan, ya kalau cuma speak up, sebar bukti screen shoot di Twitter, YouTube, apapun media sosialnya, kalau someday laki- laki brengsek kaya gitu bakalan ada lagi dan ada lagi. Gue lebih menekankan kepada wanita untuk menjaga dirinya sendiri, kalau korban sharing, dan speak up, tanpa mau merefleksi dirinya ya sulit juga, karena malah khawatir itu jadi sharing suggestions yang ga wajar dan jadi berdampak buruk ke depannya, tapi gue juga sebenarnya khawatir kalian berpikir "ya terus gue kalau menerima pelecehan gue harus diem aja gitu" enggak ya guys, sama sekali ga begitu. Tapi perlu disadari kita hidup di negara yang menganut demokrasi, artinya kebebasan berpendapat dan berpakaian ada pada setiap masyarakatnya, ya terserah kalian untuk memaki baju seperti apa, gue juga tahu bahkan ga cuma wanita berpakaian seksi yang kena cat calling, perilaku, sikap, perkataan mengarah pada sexual harassemet but at least kita berusaha mencegah aja, ga harus berhijab dan, kita tahu selayaknya memantaskan diri kita untuk melindungi diri kita, but in Islam, Islam the true covers all human safety, even men, or women, include what are you waering. Menurut gue penting juga untuk orang-orang yang sudah sharing pengalamannya dan berbagi cerita dengan followers-nya di media sosial dapat menberikan saran agar wanita- wanita di luar sana paham bagaimana harus bersikap baik untuk melindungi dirinya dan melindungi orang-orang disekitarnya.
Pada dasarnya kalau kita mengkaji sedikit di dalam Islam wanita dan laki laki memang memiliki batasan aurat.
Allah SWT dalam Qur'an surat An Nur ayat 31 berfiman mengenai kewajiban menutup aurat bagi wanita muslimah dan laki-laki muslim.
Artinya: “dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) terlihat darinya.” QS. An-Nur [24]:31
Artinya: “dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) terlihat darinya.” QS. An-Nur [24]:31
Allah SWT berfirman dalam Qur'an surat Al Ahzab ayat 59
“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak wanitamu, dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.”
“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak wanitamu, dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.”
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda mengenai batasan aurat wanita. Berdasarkan hadis Abu Daud, dari 'Aisyah radhiallahu'anha, Beliau berkata:
Asma' binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan memakai pakaian yang tipis. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pun berpaling darinya dan bersabda, "Wahai Asma, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haid (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini', Beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya"
Asma' binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dengan memakai pakaian yang tipis. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pun berpaling darinya dan bersabda, "Wahai Asma, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haid (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini', Beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya"
Gue sendiri bukan wanita yang menutup aurat dengan sempurana, ya Allah jauhlah gout dari menutup aurat dengan baik tapi gue berusaha sedikit-sedikit, dan entah kenapa gue jadi resah aja melihat dengan mudahnya orang di media sosial menyebarkan dan sharing pengalaman mereka di catt calling dan di spam chat oleh laki-laki biadap hanya untuk nge goblok- goblokin, dan nge tololin si pelaku, lebih baik dipakai untuk memberikan saran, dan juga menyadarkan diri sendiri apa yang salah, beda ya antara menyadari dan menyalahkan diri sendiri.
Intinya gue sedikit risih dengan wanita yang sharing mengenai dia yang sering juga dapat perlakuan kurang ajar mengenai sexual harassment, karena gue khawatir itu akan menjadi sharing suggestions yang diwajarkan, dan malah membuat si pelaku menjadi terbiasa juga, karena mereka mengganggap semua laki-laki sama sepertinya. Gue ga mau menggurui, karena gue juga masih belajar, dan menurut gue, kita perlu sadar diri aja, atas apa yang kita kenakan saat ini, gue tau pasti banyak pengecualian di kepala kalian tentang tulisan gue ini, kalian bisa kasih tanggapan, dan kritik, karena gue akan dengan senang hati menjawabnya.
Intinya gue sedikit risih dengan wanita yang sharing mengenai dia yang sering juga dapat perlakuan kurang ajar mengenai sexual harassment, karena gue khawatir itu akan menjadi sharing suggestions yang diwajarkan, dan malah membuat si pelaku menjadi terbiasa juga, karena mereka mengganggap semua laki-laki sama sepertinya. Gue ga mau menggurui, karena gue juga masih belajar, dan menurut gue, kita perlu sadar diri aja, atas apa yang kita kenakan saat ini, gue tau pasti banyak pengecualian di kepala kalian tentang tulisan gue ini, kalian bisa kasih tanggapan, dan kritik, karena gue akan dengan senang hati menjawabnya.
See u in the opini section.

Gue pribadi belum kepikiran sampai ke sana, tapi mungkin ranahnya jadi bisa lebih luas ya ? Coba kak lu jelasinnya detail di alasan kenapa lu risih dengan orang2 or selebgram yg speak up tentang sexual harrasment, but over all good ��
ReplyDeleteSebenarnya detailnya ya begitu adanya si, lebih kepada gue risih melihat orang-orang yang terlalu mempublikasi diri dia di cat calling dan jadi korban perilaku kejahatan sexual baik itu di media sosial, maupun un social media hanya berlandaskan ingin "nge bego-tololin" si pelaku, tanpa sadar dan merasa "harusnya" mereka bisa lebih intropeksi diri, which is doing good karena udah berniat sharing, tapi dengen embel-embel dia sharing cuma buat nunjukin siapa pelakunya, tanpa memberikan saran gimana harus wanita bersikap setelah kejadian, bukan cuma nge bego-tololin orang, terus dia tetap percaya diri nunjukin foto dia pakai bikini, gue jadi miris ngeliatnya, in case mau dia muslimah atau ga ya, even kita semua tahu Indonesia negara demokrasi dengan sejuta kebebasan, tapi kita juga sadar RUU PKS aja ibaratnya sekarang ga ada, ya yang mau ngelindungi wanita siapa? kalau bukan dirinya sendiri.
DeletePermasalahan kaya gini emg ga bisa dan ga akan selesai kalo cuma di "cut" di satu sisi. Cowo yg bilang "Ya lagi dia napsuin" dan cewe yg bilang "Kontrol sange lu, jangan kontrol cara berpakaian gue" ini berdua sama² sedeng. Di Islam emg udh diajarin perempuan utk menjaga aurat dan laki² menundukkan pandangannya. Menurutku ini udh solusi yg paling bener.
ReplyDeleteBut tbh rasanya lebih risih liat postingan soal cewe-cowo yg berhubungan badan di luar nikah, cewe hamil, ditinggalin trus share² cerita ke sosmed bilang kalo cowonya brengsek, biadab dsb. I feel like, "Oh, c'mon girl. Bangga bgt kayanya bikin satu Indonesia tau kelakukan lu"
Ah iya benar, gue juga risih banget sama orang-orang yang kelakuannya mengumbar hal-hal buruk yg dia terima tanpa sadar letak salahnya dimana, dipost pula, jadi nular dan banyak orang jadi ikutan tersuggest untuk menceritakan hal yang sama dan jadi menyebarkan ke bencian terhadap si pelaku, yang emang pelakunya juga bangsat, lah tapi korbannya juga sebelumnya mau, padahal tahu konsekuensinya apa. "ya kurang lebih gitu si"
Delete