Kali ini aku dengan mauku.
Tentangku, yang seberapa banyak maunya.
Aku mau bertemu dengan seseorang yang bisa mendengarkan ceritaku sampai tuntas
Dewasa ini, entah itu teman, kerabat, orang tua sekalipun ternyata sulit mendengarkanku sampai selesai berbicara.
Sendiri ku sadari lama- lama berbicara melelahkan
Aku tak pernah puas dengan apa yang ingin ku sampaikan
Kata yang ku ingin ucap seolah hanya bercanda
dan sama dengan yang lain, akupun membuat permohonan
Tentang satu orang yang ku harapkan setidaknya tuntas mendengar ku bicara
Serius mendengar dengan antusias, dengan kalimat jawab yang tenang
Tatap dari matanya juga
Tangannya saat ku berbicara
Lekuk kakinya yang ia jadikan tanda
Senyumnya yang pas, seakan seirama dengan kata yang terucap
namun, aku mudah menyerah
Lelah berharap dengan rasa puas.
--
Aku maunya ada seseorang yang sepertiku
Kalau aku naik motornya tolong turunkan pijakan kakinya
Kalau aku naik mobilnya.., tidak, aku tidak sesabar itu menunggu dibukakan pintu, hanya saja tolong di tanya "Apakah ada yang tertingal? Sudah amankah? Nanti kita mampir beli camilan ya.." Bentuk lega bersamanya adalah merasa senang.
Sepertinya aku melayani orang lain berusaha sebaik mungkin
Setidaknya yang bersamaku tak perlu repot melakukan hal hal kecil yang bisa lebih dulu aku bantu
Iya, lagi lagi aku maunya seseorang yang seperti diriku memperlakukan orang lain
tapi kamu jelas tau, bagaimana orang lain tidak memperhatikanmu.
Meskipun begitu, dengan yang ini aku tidak pernah menyerah
Hanya saja ingin setara, bentuk sayangnya suatu saat nanti.
--
Aku senang bertemu seseorang yang menanyakan kabar orangtuaku
Menanyakan makanan kesukaan mereka, memaklumi cerita kesalku terhadap mereka.
Aku maunya suatu saat nanti, ku mohon jangan terlalu lama Tuhan datangnya.
Iya, suatu saat nanti, iya secepatnya.
Semoga aku bertemu dengan seseorang yang tak menganggap rumahku terlalu jauh untuk dikunjungi
Berusaha keras menyadarkanku kalau dia sangat menyukaiku.
Aku suka dengan seseorang yang datang ke rumahku tidak dengan tangan kosong. Untuk apa? Untuk disenangi oleh orangtuaku tanpa perlu aku jelaskan kalau dia menyayangiku dengan sungguh sungguh
Hal-hal kecil yang dibawanya mampu terlihat sederhana, bantu jadi bagian peniliaian yang direlakan oleh orang tuaku nantinya.
--
Aku maunya suatu saat nanti bisa bersama laki- laki yang tidak setengah- setangah memilihku
Membawaku ke sebuah rumah yang ku anggap bisa jadi tempat ternyaman untuk kita berdua.
yang mempercayaiku meski salahku yang banyak nantinya membuatku terihat meragukan dimatanya, iya meski begitu dia tetap ingin percaya denganku, apapun yang nantinya aku bicarakan kepadanya.
yang memberiku banyak hal tanpa harus ku minta, bahkan aku hampir tak tahu rasanya harus meminta ke orang lain dengan cara apa, lembut atau tidaknya suaraku, semoga dia memaklumi kalau aku benar- benar tinggi ego.
"Sayang, aku boleh minta uang jajan ga" aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, tidak terbayang di otak rasanya harus minta uang selain dengan orangtuaku :))))
Semoganya dia maklum kalau aku hanya manusia manja berkedok bisa melakukan hal- hal sendirian
Menyadari sepenuh hati kalau aku hanya anak bungsu yang mendadak harus menjadi dewasa karena harus mencari nafkah.
--
Aku maunya ada orang lain yang memahamiku dengan sangat baik, meskipun tidak terlalu, dia senang untuk terus belajar mengenalku.

Comments
Post a Comment